Oleh: Riswan
Opini Ekonomi
Mahasiswa Pascasarjana – Perencanaan Pembangunan
Kalau dulu orang Bengkulu ke Lubuklinggau bisa sempat dua kali berhenti istirahat sebelum sampai, maka dengan Tol Bengkulu–Lubuklinggau perjalanan menjadi jauh lebih cepat dan hemat biaya. Mari kita coba hitung secara sederhana seberapa besar potensi keuntungan ekonomi yang akan diperoleh Bengkulu dari keberadaan jalan tol ini, serta dampaknya terhadap perputaran uang dan ekonomi daerah.
Ekonomi Bengkulu Sebelum Tol
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Bengkulu, PDRB atas dasar harga berlaku pada Triwulan III tahun 2024 mencapai Rp 25,82 triliun, tumbuh 4,62% secara tahunan. Artinya, roda ekonomi Bengkulu masih melaju, namun belum ngebut.
Dari sisi fiskal, APBD Provinsi Bengkulu tahun 2025 tercatat sebesar Rp 2,92 triliun, dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar Rp 989,9 miliar, sedikit menurun dibanding PAD tahun 2024 sebesar Rp 1,05 triliun (sumber: DJPK Kemenkeu). Pendapatan ini berasal dari pajak kendaraan, retribusi, dan dividen BUMD—yang semuanya berpotensi melonjak seiring meningkatnya arus barang dan jasa melalui tol.
Efek Ekonomi dari Jalan Tol
Secara sederhana, jalan tol menurunkan biaya logistik sebesar 15–25%, mempercepat waktu tempuh 3–5 jam, serta memicu pertumbuhan PDRB sebesar 0,5–3% tergantung pada volume perdagangan baru yang terbentuk (berdasarkan model ekonomi infrastruktur Bappenas dan BPS).
Jika kita ambil basis PDRB Bengkulu tahun 2024 sebesar Rp 25,82 triliun, maka dengan skenario moderat (+1,5%), PDRB bisa meningkat menjadi sekitar Rp 26,21 triliun.
Tol ini menjadi lontaran ekonomi yang mampu mendorong sektor pertanian dan perkebunan, pariwisata, industri kecil, serta perdagangan antar daerah. Kenaikan konsumsi dan arus perdagangan inilah yang menjadi bahan bakar pertumbuhan PDRB.
Dengan multiplier effect ini, PAD Bengkulu berpotensi ikut naik. Jika pertumbuhan ekonomi meningkat 1,5%, maka asumsi PAD bisa tumbuh minimal 5–7% atau sekitar tambahan Rp 50–70 miliar per tahun. Artinya, setiap mobil yang melintas di tol bukan hanya membawa orang dan barang, tetapi juga membawa pajak dan retribusi tambahan ke kas daerah.
Tol Bengkulu–Lubuklinggau bukan sekadar jalan cepat, melainkan jalur ekonomi baru. Setiap kilometer aspalnya adalah kilometer harapan bagi ekonomi Bengkulu. Tol ini bukan hanya memperpendek jarak antar kota, tetapi juga memperpendek jarak antara potensi dan kesejahteraan.
Ke depan, Bengkulu akan dikenal bukan hanya sebagai Bumi Merah Putih, tetapi juga sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat tumbuh.
Catatan Data Resmi
BPS Provinsi Bengkulu – PDRB ADHB Rp 25,82 triliun (2024 Triwulan III)
Pertumbuhan Ekonomi – 4,62% (yoy) 2024
DJPK Kemenkeu – APBD Rp 2,92 triliun (2025)
DJPK Kemenkeu – PAD Rp 989,9 miliar (2025)







